Kementan Perkuat Laboratorium Genomik untuk Lindungi Peternak dari Ancaman Penyakit Hewan
Yogyakarta – Bagi peternak, setiap keterlambatan mendeteksi penyakit dapat berarti hilangnya produktivitas, meningkatnya kematian ternak, hingga kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Karena itu, Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat sistem deteksi dini penyakit hewan berbasis genomik agar ancaman penyakit dapat dikenali lebih cepat, dikendalikan lebih tepat, dan tidak berkembang menjadi wabah yang merugikan peternak maupun mengganggu ketahanan pangan nasional.
Upaya tersebut menjadi bagian dari pembangunan sistem kesehatan hewan yang lebih modern, responsif, dan berbasis sains. Melalui pemanfaatan teknologi genomik dan bioinformatika, laboratorium veteriner Indonesia dipersiapkan tidak hanya mampu mendiagnosis penyakit, tetapi juga membaca karakteristik genetik patogen, menelusuri sumber penyebaran penyakit, mendeteksi perubahan genetik, hingga menghasilkan rekomendasi ilmiah yang lebih akurat untuk mendukung kebijakan pengendalian penyakit.
Untuk mewujudkannya, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan bekerja sama dengan Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) Emergency Centre for Transboundary Animal Disease (ECTAD) Indonesia, Australian Centre for Disease Preparedness (ACDP), dan Balai Besar Veteriner (BBV) Wates menyelenggarakan CLI-Based Bioinformatics Training for Indonesian Animal Health Laboratories di Yogyakarta pada 13–17 Juli 2026.
Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, mengatakan bahwa transformasi laboratorium kesehatan hewan menuju era genomik merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Menurutnya, kemajuan teknologi Whole Genome Sequencing telah membuka peluang untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan mengarakterisasi agen penyakit secara lebih cepat dan akurat sehingga diperlukan sumber daya manusia yang mampu mengolah serta menerjemahkan data genom menjadi informasi ilmiah yang dapat mendukung pengambilan keputusan.
"Pemanfaatan teknologi genomik dan bioinformatika akan memperkuat kapasitas laboratorium kesehatan hewan dalam mendeteksi, mengidentifikasi, dan mengarakterisasi agen penyakit secara lebih cepat dan akurat. Kompetensi ini menjadi modal penting dalam mendukung surveilans, investigasi wabah, serta penyusunan kebijakan pengendalian penyakit hewan berbasis ilmiah," ujar Hendra, Senin (13/7/2026).
Ia menambahkan bahwa penguatan kompetensi bioinformatika juga menjadi bagian dari implementasi pendekatan One Health dalam menghadapi ancaman penyakit hewan dan penyakit zoonotik yang semakin kompleks, sehingga laboratorium kesehatan hewan Indonesia mampu memberikan dukungan ilmiah yang lebih kuat bagi sistem kesehatan hewan nasional.
Penguasaan bioinformatika akan memperkuat kemampuan laboratorium veteriner dalam mengubah data genom menjadi informasi ilmiah yang dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi virus maupun bakteri penyebab penyakit, menentukan genotipe dan karakteristik patogen, mendeteksi mutasi genetik, melakukan penelusuran penyebaran penyakit (molecular epidemiology), hingga mendukung pengembangan vaksin dan pengawasan mutu produk veteriner. Dengan demikian, setiap data genom yang dihasilkan laboratorium dapat langsung dimanfaatkan untuk mempercepat respons pemerintah dalam mengendalikan penyakit di lapangan.
Kepala Balai Besar Veteriner Wates, Nur Saptahidayat, menegaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan teknis peserta, tetapi juga membangun ekosistem bioinformatika veteriner yang berkelanjutan di Indonesia.
"Kami berharap kompetensi bioinformatika di laboratorium kesehatan hewan terus berkembang dan semakin memperkuat peran BBV Wates sebagai ASEAN Regional Bioinformatics Reference Centre dalam mendukung pengendalian penyakit hewan di tingkat nasional maupun regional," ujar Nur Saptahidayat.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) Gunung Sindur, Hasan Abdullah Sanyata, menilai penguasaan bioinformatika akan menjadi investasi strategis dalam meningkatkan kualitas layanan laboratorium veteriner, khususnya dalam mendukung pengujian mutu obat hewan dan vaksin.
"Kemajuan teknologi genomik menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi laboratorium veteriner. Oleh karena itu, kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kompetensi sumber daya manusia agar mampu menguasai teknologi bioinformatika dan mengoptimalkan pemanfaatan data genom dalam mendukung pengujian mutu obat hewan dan vaksin," ujar Hasan.
Pada kesempatan yang sama, Farida C. Zenal dari FAO ECTAD Indonesia, mengatakan pelatihan tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kapasitas individu peserta, tetapi dapat diterapkan secara nyata di laboratorium asal masing-masing sehingga manfaatnya dirasakan oleh seluruh jejaring laboratorium kesehatan hewan di Indonesia.
"Semoga semua peserta dapat menerapkan hasil training ini di balai masing-masing, dan terus mendukung peningkatan penggunaan teknologi bioinformatika di lingkup jejaring laboratorium kesehatan hewan," ujar Farida.
Ke depan, kompetensi bioinformatika yang terbangun di berbagai laboratorium veteriner diharapkan memperkuat kolaborasi nasional dalam mengembangkan bioinformatics pipeline yang terstandar untuk berbagai penyakit hewan strategis, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), African Swine Fever (ASF), Newcastle Disease (ND), Lumpy Skin Disease (LSD), Avian Influenza (AI), serta berbagai bakteri patogen lainnya. Standarisasi tersebut akan mempercepat pertukaran data ilmiah, meningkatkan kualitas analisis, dan memperkuat sistem surveilans penyakit hewan secara nasional.
Bagi Kementerian Pertanian, investasi pada teknologi genomik bukan sekadar membangun laboratorium yang lebih modern, tetapi membangun sistem perlindungan yang lebih kuat bagi peternak Indonesia. Dengan deteksi penyakit yang semakin cepat, respons pengendalian yang lebih presisi, dan dukungan data ilmiah yang semakin akurat, pemerintah ingin memastikan peternak dapat berusaha dengan lebih aman, produktif, dan berdaya saing. Pada saat yang sama, sistem kesehatan hewan yang semakin kuat akan menjaga keberlanjutan produksi peternakan, memperkuat ketahanan pangan nasional, serta meningkatkan kepercayaan dunia terhadap kualitas dan keamanan produk peternakan Indonesia.