Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
1
Chatbot
Selamat datang, silahkan tanyakan sesuatu
Logo

Kewaspadaan terhadap Risiko Salmonellosis Akibat Konsumsi Telur Tidak Higienis

30/03/2026 13:29:00 Ahdika Liramadhini Asia 12

Sumber : https://share.google/YPmR153wTlqyZ5Sak

Jakarta, 27 Maret 2026 — Berdasarkan berbagai laporan ilmiah internasional, termasuk EFSA–ECDC Zoonoses Report 2025 serta data dari World Health Organization (WHO), Salmonella tetap menjadi salah satu penyebab utama penyakit bawaan makanan (foodborne disease) yang terkait dengan produk hewani, termasuk telur. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enteritidis sering ditemukan pada telur yang tidak diolah atau disimpan dengan benar.

Salmonellosis merupakan penyakit infeksi yang umumnya menyebar melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, termasuk telur yang tidak dimasak hingga matang sempurna. Seluruh lapisan masyarakat berisiko terpapar, terutama anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Peningkatan kewaspadaan menjadi penting, seiring maraknya konten media sosial yang memperlihatkan konsumsi telur mentah atau setengah matang yang berpotensi tidak aman.

Penularan Salmonella dapat terjadi di berbagai lingkungan, mulai dari rumah tangga, warung makan, hingga fasilitas umum yang tidak menerapkan prinsip higiene dan sanitasi pangan dengan baik. Kontaminasi pada telur dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kondisi telur yang kotor, cangkang retak, penyimpanan telur pada suhu yang tidak sesuai, serta proses pengolahan yang tidak higienis.

Bakteri Salmonella tidak dapat dikenali secara kasat mata karena tidak mengubah warna, bau, maupun rasa telur. Gejala infeksi biasanya muncul dalam waktu 12–72 jam setelah konsumsi, dan dapat berlangsung selama beberapa hari, tergantung kondisi kesehatan individu.

Menurut laporan EFSA–ECDC 2023–2024, Salmonella masih menjadi salah satu penyebab utama penyakit bawaan pangan di Eropa, dengan proporsi sebesar 19,6% dari seluruh wabah makanan, serta peningkatan kasus hingga 38,9% pada tahun 2024. WHO memperkirakan terdapat lebih dari 600 juta kasus penyakit bawaan makanan setiap tahun secara global, dengan kontribusi signifikan dari Salmonella, terutama pada anak di bawah usia lima tahun.

Di Indonesia, beberapa kasus keracunan akibat Salmonella juga telah dilaporkan. Pada Mei 2025, terjadi keracunan massal pada siswa di Bogor yang dikaitkan dengan konsumsi telur ceplok yang disimpan dan disajikan tanpa penanganan higienis yang memadai. Pada September 2025, kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan di Jawa Barat dilaporkan memengaruhi lebih dari 1.300 orang.

Dikutip dari Kementerian Kesehatan RI, gejala utama infeksi Salmonella meliputi diare berair, demam, sakit kepala, kram perut, mual, dan muntah. Jika tidak ditangani dengan baik, infeksi dapat menyebabkan dehidrasi berat dan komplikasi serius. Umumnya, infeksi berlangsung selama 4–7 hari, meskipun pada beberapa kasus diare dapat berlanjut hingga 10 hari, dengan waktu pemulihan fungsi usus yang lebih lama.

Masyarakat disarankan untuk menyimpan telur di lemari pendingin pada suhu di bawah 4°C, memasak telur hingga matang sempurna, menghindari konsumsi telur mentah atau setengah matang, memilih telur yang bersih dan tidak retak, serta menjaga kebersihan tangan saat menangani telur dan menjaga kebersihan peralatan untuk mencegah kontaminasi silang.

Pemerintah melalui berbagai kebijakan keamanan pangan, termasuk strategi WHO Global Food Safety 2022–2030 dan regulasi nasional seperti PP No. 86 Tahun 2019 tentang Keamanan Pangan, terus mendorong peningkatan kesadaran masyarakat sebagai langkah utama pencegahan.

Peningkatan kesadaran terhadap keamanan pangan merupakan kunci dalam mencegah penyebaran penyakit bawaan makanan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih selektif dalam mengonsumsi makanan serta tidak mudah terpengaruh oleh tren kuliner yang berisiko bagi kesehatan. Penerapan prinsip kebersihan, pengolahan makanan yang benar dengan memperhatikan higiene sanitasi, serta penyimpanan yang tepat merupakan langkah efektif untuk melindungi diri dan keluarga dari risiko Salmonellosis. (HUMAS BPMPSH)

Facebook Instagram Youtube X TikTok