Bulan Bakti Peternakan ke-190 Kementan Serentakkan Vaksinasi Rabies, Sumut Bidik Rekor MURI
Jakarta – Perlindungan terhadap hewan kesayangan sekaligus pencegahan rabies terus diperkuat Kementerian Pertanian (Kementan). Dalam rangkaian acara Bulan Bakti Peternakan ke-190 dan Hari Rabies Sedunia 2026, Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) menggelar rangkaian vaksinasi rabies gratis dan layanan kesehatan hewan di sejumlah daerah.
Langkah tersebut tidak hanya menghadirkan layanan vaksinasi yang mudah dijangkau masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa pencegahan rabies perlu dilakukan bersama. Tahun ini, Hari Rabies Sedunia yang diperingati setiap 28 September mengusung tema “Stronger Together”, yang menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, tenaga veteriner, pemerintah, dan berbagai pihak dalam pengendalian rabies.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan vaksinasi hewan merupakan langkah penting dalam memutus rantai penularan rabies sekaligus melindungi kesehatan masyarakat. Karena rabies merupakan penyakit zoonosis, upaya pencegahannya membutuhkan keterlibatan sektor kesehatan hewan dan masyarakat secara bersamaan.
“Pencegahan rabies harus kita lakukan dari sumbernya, salah satunya melalui peningkatan cakupan vaksinasi Hewan Pembawa Rabies. Kementan melalui UPT terus mendorong pelayanan vaksinasi dan edukasi agar masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan hewan kesayangan,” ujar Agung Suganda, Rabu (23/9/2026).
Menurut Agung, rangkaian vaksinasi gratis yang dilakukan UPT Ditjen PKH juga menjadi momentum untuk mendekatkan layanan veteriner kepada masyarakat. Selain vaksinasi, kegiatan di sejumlah daerah dilengkapi pemeriksaan kesehatan, pengobatan, konsultasi, serta Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) mengenai rabies dan cara merawat hewan secara bertanggung jawab.
Gerakan tersebut terlihat di Sumatera Barat melalui Balai Veteriner Bukittinggi. UPT Kementan ini menyediakan vaksinasi, pengobatan, dan KIE rabies secara gratis bagi pemilik hewan kesayangan. Pelayanan dilaksanakan di halaman Balai Veteriner Bukittinggi dan Lapangan Cindua Mato Batusangkar pada 27–29 September 2026.
Layanan serupa juga digelar Balai Veteriner Subang bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Karawang. Dalam kegiatan Gebyar Masal Vaksinasi dan KIE Rabies, layanan diberikan kepada berbagai jenis Hewan Pembawa Rabies (HPR), mulai dari kucing, anjing, musang hingga kera. Kegiatan tersebut juga dilengkapi pengobatan hewan, pemeriksaan kesehatan, konsultasi, serta edukasi bagi pemilik hewan.
Sementara itu, Balai Veteriner Lampung mengajak masyarakat melindungi hewan kesayangan melalui vaksinasi gratis dalam rangka World Rabies Day 2026. Selain vaksinasi pada 27 September 2026, masyarakat dapat memperoleh edukasi perawatan hewan dan konsultasi kesehatan melalui Lapak Kesehatan Hewan yang disiapkan pada kegiatan tersebut.
Dari berbagai rangkaian tersebut, perhatian juga tertuju ke Sumatera Utara. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bersama Kementan dan PDHI Cabang Sumut menyiapkan vaksinasi rabies massal secara serentak di seluruh kabupaten/kota di Sumatera Utara dengan sasaran 15.000 HPR. Gerakan ini menjadi bagian dari langkah memperluas cakupan perlindungan hewan sekaligus mendukung target Sumatera Utara bebas rabies.
Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution mengatakan pemerintah daerah terus mendorong peningkatan cakupan vaksinasi hewan peliharaan. Ia menargetkan sekitar 80 persen hewan peliharaan di Sumatera Utara mendapatkan vaksinasi sebagai bagian dari upaya mewujudkan daerah tersebut bebas rabies. Upaya itu diperkuat dengan penanganan kasus gigitan HPR, dengan indikator tata laksana sesuai standar yang telah mencapai 96 persen di 30 kabupaten/kota se-Sumatera Utara.
Menurut Bobby, vaksinasi menjadi langkah penting untuk mengantisipasi penyebaran rabies sekaligus mencegah terjadinya gigitan HPR. Hal tersebut dinilai semakin penting karena manusia hidup berdampingan dengan hewan peliharaan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengatakan, perhatian terhadap vaksinasi juga perlu diperkuat di kawasan wisata. Menurutnya, pencegahan gigitan HPR tidak hanya berkaitan dengan kesehatan masyarakat, tetapi juga penting untuk menjaga kenyamanan wisatawan dan citra pariwisata Sumatera Utara.
“Karena kita berdampingan dengan hewan, dan perlu divaksinasi. Kita perlu memvaksinasi seluruh hewan di daerah wisata agar tidak ada wisatawan tergigit dan mengganggu kenyamanan wisata,” jelas Bobby.
Vaksinasi serentak tersebut dijadwalkan menjadi salah satu agenda utama peringatan Bulan Bakti Peternakan dan Hari Rabies Sedunia 2026 di Sumatera Utara. Pelaksanaannya dipusatkan dalam rangkaian kegiatan di Lapangan Astaka, Medan, pada 26–27 September 2026 dan dilaksanakan secara serentak di berbagai wilayah. Pemerintah daerah menyebut kegiatan ini juga diarahkan untuk membidik rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) kategori vaksinasi rabies terbanyak di tingkat provinsi.
Kepala Balai Veteriner Medan, Arif Hukmi, mengatakan target 15.000 HPR tersebut menjadi momentum untuk memperluas cakupan vaksinasi sekaligus memperkuat koordinasi pengendalian rabies di Sumatera Utara. Menurutnya, keberhasilan pengendalian rabies tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan vaksinasi, tetapi juga membutuhkan edukasi, pemantauan kesehatan hewan, serta keterlibatan aktif pemilik hewan.
“Target 15.000 HPR ini bukan sekadar angka, tetapi bagian dari upaya memperluas perlindungan terhadap hewan dan masyarakat. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, tenaga veteriner, organisasi profesi, dan pemilik hewan menjadi sangat penting untuk memastikan vaksinasi berjalan optimal,” ujar Arif.
Bagi Kementan, rangkaian kegiatan di berbagai daerah tersebut menunjukkan bahwa pengendalian rabies membutuhkan pendekatan yang dekat dengan masyarakat. Vaksinasi menjadi pintu masuk untuk membangun kepedulian yang lebih luas, mulai dari kepemilikan hewan yang bertanggung jawab, pemeriksaan kesehatan secara berkala, hingga kesadaran untuk segera mendapatkan penanganan apabila terjadi gigitan.
Upaya tersebut sejalan dengan pendekatan One Health yang menempatkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan. WHO juga menekankan bahwa eliminasi rabies membutuhkan vaksinasi hewan, penguatan surveilans, edukasi masyarakat, serta kerja sama lintas sektor.
Dengan semangat Bulan Bakti Peternakan ke-190 dan Hari Rabies Sedunia 2026, Kementan melalui UPT di lingkungan Ditjen PKH terus memperluas akses layanan vaksinasi dan edukasi kepada masyarakat. Dari layanan gratis di berbagai balai veteriner hingga gerakan serentak 15.000 HPR di Sumatera Utara, seluruh rangkaian tersebut diarahkan pada satu tujuan, memperkuat perlindungan hewan sekaligus menjaga masyarakat dari ancaman rabies.