Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
1
Chatbot
Selamat datang, silahkan tanyakan sesuatu
Logo

Kementan-Berdikari Pacu Hilirisasi Ayam Terintegrasi, Bangun Ekosistem Peternakan dan SDM

08/09/2026 08:18:00 Hasrul 40

Jakarta — Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong penguatan subsektor peternakan melalui pengembangan ekosistem usaha yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Selain meningkatkan produksi protein hewani, langkah tersebut diarahkan untuk membuka ruang tumbuh bagi peternak, meningkatkan nilai tambah, serta memperkuat keterhubungan antara produksi dan kebutuhan pangan masyarakat.

Salah satu upaya yang dikembangkan adalah Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) melalui sinergi Kementan dan PT Berdikari. Persiapan bimbingan teknis (bimtek) Program HAT dibahas dalam koordinasi yang berlangsung di Kantor Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Senin (7/9/2026).

Program HAT diarahkan untuk mendukung agenda nasional, antara lain penguatan swasembada pangan, program Makan Bergizi Gratis (MBG), ketahanan energi, dan hilirisasi industri. Dalam konteks tersebut, subsektor peternakan memiliki peran penting dalam menyediakan protein hewani sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi masyarakat di daerah.

Hary mengatakan pengembangan ayam secara terintegrasi perlu dibangun dengan memperhatikan keterhubungan antarpelaku, sehingga penguatan produksi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas peternak dan dukungan ekosistem usaha.

“Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi ini bukan hanya berbicara mengenai peningkatan produksi, tetapi bagaimana membangun ekosistem peternakan dari hulu hingga hilir secara terintegrasi. Karena itu, kolaborasi pemerintah, PT Berdikari, penyuluh, dan peternak sangat penting agar program ini benar-benar memberikan dampak bagi peningkatan kesejahteraan peternak,” ujar Hary.

Sebagai tahap awal, pengembangan HAT diarahkan melalui klaster di enam provinsi, yakni Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Lampung, Gorontalo, dan Kalimantan Timur. Pengembangan klaster tersebut diharapkan dapat memperkuat basis produksi di daerah sekaligus mendukung ketersediaan pangan dan protein hewani, termasuk untuk kebutuhan MBG.

Penguatan SDM menjadi salah satu perhatian dalam persiapan HAT. PT Berdikari menilai kemampuan pelaku di lapangan perlu berjalan seiring dengan pengembangan fasilitas dan infrastruktur agar penerapan teknologi serta tata kelola peternakan dapat dilakukan secara optimal.

Agung S. Mukti, General Manager Project Management Officer PT Berdikari (Persero), mengatakan kolaborasi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem HAT.

“Berdikari melihat program Hilirisasi Ayam Terintegrasi sebagai sebuah ekosistem yang harus dibangun bersama. Kami siap berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian, penyuluh, dan peternak agar transfer pengetahuan dan penerapan teknologi di lapangan berjalan dengan baik, sehingga klaster yang dibangun dapat produktif dan berkelanjutan,” kata Agung S. Mukti.

Karena itu, bimtek HAT disiapkan tidak hanya sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga sebagai Train the Trainer (TOT) untuk memperkuat kapasitas SDM di lapangan. Penyuluh dan peternak yang mengikuti kegiatan diharapkan dapat menjadi penggerak yang meneruskan pengetahuan kepada peternak lainnya.

Pendekatan tersebut menempatkan penguatan SDM sebagai bagian yang berjalan beriringan dengan pengembangan infrastruktur dan rantai usaha. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang semakin baik, peternak diharapkan dapat mengelola usaha secara lebih efektif sekaligus memanfaatkan teknologi yang tersedia.

Melalui sinergi Kementan, PT. Berdikari, pemerintah daerah, penyuluh, pelaku usaha, dan peternak, pengembangan HAT diharapkan dapat memperkuat keterhubungan usaha ayam dari hulu hingga hilir. Langkah tersebut sekaligus membuka peluang agar peningkatan produksi dapat diikuti dengan penguatan nilai tambah dan manfaat ekonomi bagi peternak.

Facebook Instagram Youtube X TikTok