Indonesia Timor Leste Perkuat Kerja Sama Peternakan, Fokus pada Kesehatan Hewan dan Genetik
Jakarta – Indonesia dan Timor-Leste memperkuat kerja sama subsektor peternakan dengan menitikberatkan pada penguatan kesehatan hewan di wilayah perbatasan, peningkatan mutu genetik ternak, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, dan perluasan perdagangan komoditas peternakan.
Penguatan kerja sama tersebut dibahas dalam pertemuan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda dengan Menteri Muda Bidang Peternakan Timor Leste José Viera de Araújo di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (21/9).
Menurut Agung, kedekatan geografis dan hubungan lintas batas antara kedua negara membuat kerja sama kesehatan hewan menjadi penting, terutama untuk mencegah masuknya dan menyebarnya penyakit hewan serta menjaga keamanan perdagangan komoditas peternakan.
“Indonesia memandang Timor Leste sebagai mitra strategis di kawasan. Kami sepakat kerja sama kedua negara terus ditingkatkan karena memiliki karakteristik dan tantangan yang sama, terutama dalam pengendalian penyakit hewan, peningkatan produktivitas ternak, dan penguatan perdagangan komoditas peternakan,” ujar Agung.
Agung menyampaikan bahwa Indonesia terus memperkuat pengamanan wilayah perbatasan dari ancaman penyakit hewan menular strategis. Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, dipertahankan sebagai wilayah bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD). Kementan juga terus mempertahankan status bebas PMK di Maluku, Maluku Utara, dan enam provinsi di Tanah Papua melalui surveilans dan pengawasan berbasis risiko.
Sementara itu, José Viera de Araújo menyampaikan pentingnya memperkuat kerja sama dalam mencegah pergerakan ilegal ternak dan produk hewan serta meningkatkan pengawasan kesehatan hewan lintas batas terhadap penyakit eksotik yang berpotensi mengancam kedua negara.
“Penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan edukasi sangat penting untuk meningkatkan populasi ternak di Timor Leste. Kami berharap kerja sama inseminasi buatan dan pengembangan genetik ternak bersama Indonesia dapat terus ditingkatkan,” imbuh José.
Kerja sama peningkatan mutu genetik tersebut sejalan dengan penguatan teknologi reproduksi yang terus didorong oleh Indonesia. Pada 2026, Kementan mendistribusikan semen beku ke wilayah pengembangan inseminasi buatan, termasuk NTT yang merupakan salah satu sentra sapi nasional.
Di sisi perdagangan, penguatan produksi nasional juga membuka peluang perluasan pasar komoditas peternakan. Timor Leste menjadi salah satu pasar yang telah menerima produk peternakan Indonesia, termasuk karkas dan produk olahan ayam. Pada Juni 2026, Kementan melepas ekspor 17,9 ton karkas dan produk olahan ayam ke Timor-Leste dengan nilai Rp1,043 miliar.
Agung mengapresiasi pelaksanaan Import Risk Analysis (IRA) oleh Timor-Leste terhadap sejumlah unit usaha di Indonesia pada 2024–2025. Ia berharap proses penilaian lanjutan dapat dilakukan untuk membuka peluang perdagangan produk hatching egg, day-old chick (DOC) ayam KUB, DOC parent stock (PS) layer, dan DOC PS broiler, sesuai persyaratan dan ketentuan kedua negara.
Dalam penguatan layanan veteriner, Agung juga mendorong perluasan kolaborasi yang tidak hanya melibatkan Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, tetapi juga Balai Besar Veteriner Farma (BBVF) Pusvetma, khususnya dalam penguatan kapasitas kesehatan hewan dan layanan veteriner.
Kerja sama pengembangan kerbau turut dibahas melalui dukungan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), termasuk rencana penyediaan semen beku produksi Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang serta dukungan dua tenaga ahli untuk pelatihan inseminasi buatan dan peningkatan kapasitas petugas peternakan di Timor Leste.
Melalui penguatan kesehatan hewan, genetik, sumber daya manusia, dan perdagangan, Indonesia dan Timor Leste diharapkan dapat membangun kerja sama peternakan yang semakin konkret, saling menguntungkan, dan mendukung ketahanan pangan serta keamanan kesehatan hewan di kawasan.