Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
1
Chatbot
Selamat datang, silahkan tanyakan sesuatu
Logo

Kementan Dorong STRIDES-GHS Perkuat Surveilans Berbasis Risiko di Daerah

29/08/2026 08:20:00 Hasrul 5

Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pelaksanaan program Strengthening Infectious Disease Detection Systems–Global Health Security (STRIDES-GHS) untuk memperkuat sistem kesehatan hewan melalui peningkatan kapasitas surveilans, laboratorium, keterhubungan data, serta kesiapsiagaan dan respons terhadap wabah.

Hal tersebut mengemuka pada Pertemuan Sosialisasi Pelaksanaan Program STRIDES-GHS yang diselenggarakan di Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Pembahasan turut melibatkan pemerintah daerah dan laboratorium dari tiga wilayah prioritas, yakni Jawa Barat yang mencakup Kabupaten Subang dan Kabupaten Bogor, Banten dengan Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Lebak, serta Jawa Tengah dengan Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Sukoharjo. Keterlibatan daerah tersebut menjadi ruang untuk memetakan kebutuhan dan kesiapan lapangan dalam mendukung pelaksanaan STRIDES-GHS.

Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nuryani Zainuddin, menilai penguatan surveilans penyakit influenza menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung kesehatan hewan sekaligus keberlanjutan sektor peternakan. Sistem surveilans yang lebih komprehensif diharapkan dapat memperkuat ketersediaan informasi mengenai situasi penyakit dan mendukung berbagai kebutuhan subsektor peternakan, termasuk perdagangan dan ekspor.

“Kami sangat setuju ketika STRIDES-GHS hadir untuk memperkuat surveilans penyakit influenza. Ini penting karena kita perlu memastikan sistem surveilans yang kita miliki mampu memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai situasi penyakit influenza di Indonesia. Dengan penguatan tersebut, kita berharap data surveilans dapat semakin kuat dan mendukung berbagai kebutuhan, termasuk dalam menyokong perdagangan dan ekspor produk peternakan Indonesia,” ujar Nuryani.

Nuryani juga berpandangan bahwa dalam pelaksanaan program juga perlu melibatkan berbagai pihak yang memiliki peran dalam kesehatan hewan, mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, hingga lembaga terkait. Kolaborasi tersebut diperlukan agar dukungan yang diberikan melalui berbagai program dapat saling melengkapi dan menghasilkan dampak yang lebih luas.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Kita harus bekerja bersama-sama, melibatkan dinas, perguruan tinggi, dan pihak terkait lainnya agar kita mendapatkan lebih banyak output dari program ini,” tutup Nuryani.

Kepala Balai Veteriner Subang, Putut Eko Wibowo, menekankan pentingnya memastikan aspek pelaksanaan dan administrasi pengambilan serta pengujian sampel sejak tahap perencanaan. Kejelasan mekanisme tersebut diperlukan agar kegiatan surveilans di lapangan dapat berjalan selaras dengan kapasitas dan dukungan laboratorium.

“Ujungnya surveilans itu ada pengambilan sampel. Karena itu, kebutuhan untuk pengambilan dan pengujian sampel, termasuk mekanisme pelaksanaannya, perlu benar-benar kita detailkan sejak awal,” ujarnya.

Putut juga melihat jejaring penyuluh sebagai salah satu sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas surveilans berbasis masyarakat. Keberadaan penyuluh di berbagai wilayah dinilai dapat mendukung pelaporan kejadian penyakit dari tingkat lapangan untuk selanjutnya ditindaklanjuti melalui pemeriksaan dan analisis.

“Penyuluh itu banyak dan saat ini berada di bawah Kementan. Tinggal dilihat berapa yang ada di Jawa Barat, berapa di Banten. Itu bisa diberdayakan untuk memperkuat surveilans berbasis masyarakat,” ujarnya.

Dengan dukungan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas masing-masing daerah, STRIDES-GHS diharapkan dapat memperkuat sistem kesehatan hewan secara lebih menyeluruh, dari tingkat pusat hingga lapangan. Penguatan ini menjadi bagian dari upaya memastikan kemampuan Indonesia dalam mendeteksi dan merespons ancaman penyakit semakin kuat.

Facebook Instagram Youtube X TikTok