Kementan Dorong Integrasi Peternakan di Muaro Jambi, Peternak Dapat Nilai Tambah
Jakarta — Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian (Kementan) siap memberikan dukungan untuk memperkuat pengembangan peternakan berbasis integrasi. Strategi ini diyakini mampu meningkatkan efisiensi usaha, kualitas hasil ternak, dan keberlanjutan ekonomi peternak di tingkat daerah.
Integrasi peternakan menjadi pendekatan penting untuk memperkuat fondasi ketahanan pangan berbasis protein hewani. Dengan menghubungkan rantai produksi dari hulu hingga hilir — mulai dari penyediaan pakan, budidaya ternak, pengolahan, hingga pemasaran — peternak tidak hanya mendapatkan jaminan efisiensi produksi, tetapi juga peningkatan nilai tambah dari hasil usaha mereka.
Langkah ini menjadi wujud tanggung jawab negara dalam memastikan peternak menjadi bagian utama sistem pangan nasional yang tangguh.
Dalam kunjungan kerja ke Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) pada Rabu (14/1/2026), Bupati Muaro Jambi, Bambang Bayu Suseno, menyampaikan langsung kondisi dan potensi daerahnya kepada jajaran Kementerian Pertanian.
“Muaro Jambi merupakan salah satu daerah pendukung kedaulatan pangan di Provinsi Jambi dengan 11 kecamatan yang memiliki keunggulan masing-masing. Namun, pengembangan sektor peternakan masih memerlukan dukungan, terutama dalam penyediaan bibit ternak serta penguatan layanan kesehatan hewan,” ujar Bupati Bambang.
Kendati subsektor peternakan menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat, keterbatasan sarana dan prasarana masih menjadi tantangan. Dari lima puskeswan di wilayah tersebut, baru satu yang sepenuhnya berfungsi aktif. Akibatnya, peternak sering menghadapi kendala ketika terjadi kasus penyakit ternak yang memerlukan intervensi cepat.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Hary Suhada, menyatakan bahwa pemerintah pusat berkomitmen mendorong penguatan peternakan daerah tidak hanya melalui intervensi anggaran, tetapi juga lewat strategi kolaboratif dan inovatif.
“Muaro Jambi memiliki potensi besar untuk pengembangan integrasi sapi–sawit, khususnya di wilayah Sungai Bahar. Selain itu, untuk komoditas susu, Provinsi Jambi memiliki peluang pengembangan kerbau perah yang dapat didukung melalui peningkatan mutu genetik, antara lain melalui pemanfaatan straw dari Balai Inseminasi Buatan,” jelas Hary.
Ia menegaskan, penguatan peternakan berbasis potensi lokal adalah kunci kemandirian pangan daerah dan jalan menuju kesejahteraan peternak yang berkelanjutan. Kementan juga tengah memacu partisipasi swasta dan kemitraan berbasis investasi agar akses permodalan dan teknologi semakin terbuka bagi peternak di daerah.
Pendekatan integrasi tidak hanya meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya, tetapi juga memperpendek rantai pasok antara peternak dan pasar. Bagi peternak sapi di kawasan perkebunan sawit, misalnya, limbah pelepah dan bungkil dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif, sehingga biaya operasional berkurang dan profit meningkat.
Dengan keberlanjutan sistem peternakan terintegrasi, peternak mendapatkan tiga keuntungan sekaligus: peningkatan produksi, penurunan biaya pakan, dan stabilitas pendapatan melalui diversifikasi usaha.
Kementan akan terus memantau kemajuan program integrasi di daerah, memberikan pendampingan teknis, serta memastikan peternak mendapatkan layanan kesehatan hewan, bibit unggul, dan akses pasar yang memadai. Dengan demikian, peternakan rakyat dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi daerah yang berdaya saing tinggi dan menjadi penopang utama ketahanan pangan nasional.