Kementan dan BRIN Rumuskan Strategi Peternakan Hadapi Perubahan Iklim

Jakarta — Perubahan iklim kini kian nyata dirasakan para peternak. Dampaknya tak hanya memengaruhi kesehatan ternak dan produktivitas, tetapi juga mengancam kelangsungan usaha peternak skala kecil, terutama di pedesaan. Untuk itu, Kementerian Pertanian bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merancang langkah adaptasi berbasis riset agar peternakan rakyat tetap tangguh di tengah krisis iklim.

Langkah ini dimulai melalui kolaborasi riset yang tengah berjalan di bawah koordinasi Rumah Program Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat BRIN. Fokus riset diarahkan pada penyusunan model adaptasi peternak ayam komersial di perdesaan dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Kementerian Pertanian, Hary Suhada, menyambut baik kerja sama tersebut. Ia menilai, riset adaptasi iklim menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat sistem peternakan nasional.

“Dampak perubahan iklim tak lagi sebatas persoalan lingkungan, melainkan telah menjadi tantangan nyata yang memengaruhi produktivitas ternak, kesehatan hewan, hingga kelangsungan usaha peternak kecil,” ujar Hary.

Ia menambahkan, pendekatan berbasis bukti dan riset lapangan menjadi kunci agar intervensi kebijakan yang dirumuskan pemerintah dapat lebih tepat sasaran. 

“Kita tidak bisa bekerja sendiri dalam menghadapi perubahan iklim. Butuh keterlibatan aktif dari semua pihak — pemerintah, peneliti, akademisi, pelaku usaha, hingga masyarakat peternak itu sendiri,” tegasnya.

Dari sisi BRIN, peneliti Restiyana Agustine menjelaskan bahwa adaptasi iklim di sektor peternakan tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan kelembagaan lokal yang membentuk pola respon peternak. 

“Kami berharap hasil riset ini dapat menjadi masukan konkret dalam penyusunan kebijakan dan program yang mendukung ketahanan peternak rakyat di tengah dampak perubahan,” ucapnya.

Diharapkan, hasil penelitian ini tidak hanya menghasilkan rekomendasi teknis, tetapi juga memperkuat fondasi kebijakan peternakan nasional — mulai dari perencanaan program, hingga standar adaptasi iklim yang lebih sistematis dan responsif terhadap kondisi di lapangan.