Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
1
Chatbot
Selamat datang, silahkan tanyakan sesuatu
Logo

Peternak Jadi Prioritas, Kementan Pantau dan Bantu Tangani Kasus LSD di Kabupaten Jembrana

19/01/2026 09:47:00 Hasrul 94

Bali - Pencegahan penyakit hewan menjadi hal penting untuk menjaga keberlanjutan peternakan dan melindungi kesehatan masyarakat. Penyakit hewan dapat menurunkan produktivitas, menimbulkan kerugian ekonomi, serta mengancam keamanan pangan dan kesehatan manusia, terutama penyakit zoonosis, sehingga pencegahan melalui biosekuriti, vaksinasi, dan pengawasan kesehatan hewan harus diprioritaskan.

Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan pemantauan langsung situasi penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) di Kabupaten Jembrana, Bali, sekaligus menyalurkan bantuan obat-obatan dan vaksin LSD pada Sabtu (17/1/2026).

Kasus LSD pertama di Bali terdeteksi pada akhir Desember 2025 di Kabupaten Jembrana dan telah dikonfirmasi positif melalui uji PCR di BBV Denpasar dan Laboratorium Rujukan Nasional. Penelusuran lanjutan pada 5 Januari 2026 menemukan 28 ekor sapi positif LSD di enam desa di Kecamatan Melaya dan Negara.

Kunjungan lapangan dilakukan untuk memastikan kondisi terkini dan perkembangan penyakit LSD serta menjamin langkah pengendalian dan penanggulangan dapat dilaksanakan secara cepat dan tepat.

Direktur Kesehatan Hewan, Kementan, Hendra Wibawa menekankan pentingnya penerapan biosekuriti dasar di tingkat peternak, terutama kebersihan kandang, untuk menekan penyebaran virus LSD yang ditularkan melalui vektor.

"LSD ditularkan melalui vektor seperti lalat dan nyamuk. Karena itu, kandang harus dijaga kebersihannya agar tidak lembap, gunakan insektisida bila perlu, serta batasi lalu lintas ternak keluar-masuk," ujar Hendra.

Ia juga menegaskan vaksinasi sebagai benteng utama pengendalian LSD di wilayah tertular. "Vaksinasi darurat ini sangat penting untuk melindungi ternak di wilayah tertular. Kami berharap tim terpadu di daerah terus melakukan edukasi kepada peternak agar pengendalian LSD berjalan cepat dan tepat sasaran," katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Ditjen PKH menyerahkan bantuan obat-obatan, desinfektan, dan vaksin LSD. BBV Denpasar turut mendukung dengan bantuan laboratorium berupa masing-masing 500 Tube EDTA, Tube Plain, dan Needle untuk pengambilan sampel ternak suspek LSD.

Kepala Balai Besar Veteriner Denpasar, Imron Suandy, menyampaikan bahwa penanganan LSD dilakukan dengan pembagian wilayah menjadi zona tertular, zona kontrol, dan zona surveilans agar pengendalian lebih efektif. "Dengan pembagian zona ini, pengawasan, pengambilan sampel, serta tindakan pengendalian bisa dilakukan sesuai tingkat risiko di lapangan, sehingga penyebaran LSD dapat ditekan secara maksimal," ungkapnya.

Pemantauan dilanjutkan dengan rapat koordinasi di Kantor Bupati Jembrana dan didukung kebijakan Gubernur Bali melalui Surat Edaran Peringatan Dini LSD.

Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Pertanian dan menyebutnya sebagai bentuk kolaborasi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah.

"Saya menyampaikan terima kasih kepada Bapak Direktur beserta seluruh tim yang hadir atas perhatian dan dukungannya kepada kami di Jembrana. Ini merupakan bentuk kolaborasi yang luar biasa antara Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten," ujarnya.

Kementan menegaskan komitmennya untuk mengendalikan penyakit hewan menular strategis secara cepat, terkoordinasi, dan berkelanjutan guna menjaga kesehatan hewan dan keberlangsungan peternakan di Bali.

Facebook Instagram Youtube X TikTok