Perkuat Tata Kelola, Kementan Kawal Hilirisasi Ayam untuk Peternak Rakyat
Jakarta — Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan pentingnya disiplin dalam pengelolaan anggaran, penguatan integritas aparatur sipil negara (ASN), serta fokus pada pelaksanaan program strategis nasional. Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan Koordinasi Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) yang digelar pada Selasa (11/2/2026). Pertemuan ini menjadi momentum awal konsolidasi kinerja sekaligus penajaman arah kebijakan Ditjen PKH sepanjang tahun 2026.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, menegaskan bahwa ketertiban administrasi dan ketepatan penyelesaian laporan keuangan harus menjadi perhatian seluruh jajaran. Menurutnya, aspek tersebut bukan sekadar kewajiban teknis, melainkan cerminan akuntabilitas dan tanggung jawab institusi.
“Laporan keuangan dan kinerja harus menjadi perhatian utama. Ini bukan hanya soal administrasi, tetapi ukuran tanggung jawab dan kinerja kita bersama,” ujar Agung.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga integritas dan disiplin, serta mendorong perubahan pola pikir dan pola kerja ASN di lingkungan Kementan. Tantangan subsektor peternakan dan kesehatan hewan yang semakin dinamis, kata dia, menuntut pendekatan kerja yang adaptif, profesional, dan berorientasi pada hasil.
“Kita tidak bisa berharap hasil yang berbeda jika cara kerjanya tetap sama. Perubahan cara berpikir dan bekerja harus terus dilakukan,” tegasnya.
Memasuki tahun 2026, Ditjen PKH menetapkan program hilirisasi ayam terintegrasi sebagai salah satu prioritas utama. Program strategis ini telah memasuki tahap awal melalui pelaksanaan groundbreaking pada 6 Februari 2026 di enam wilayah, yakni Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Lampung.
Agung menekankan bahwa peran Ditjen PKH tidak berhenti pada tahap perencanaan. Pendampingan menyeluruh harus dipastikan berjalan optimal, mencakup kebijakan, penguatan sumber daya manusia, dukungan teknis, hingga aspek kesehatan hewan.
“Hilirisasi ayam terintegrasi menjadi fokus kita. Pendampingan harus berjalan optimal agar kelompok peternak memahami program ini dan benar-benar merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Senada dengan itu, Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Hilirisasi Produk Peternakan, Ali Agus, menilai pengembangan hilirisasi peternakan khususnya sektor perunggasan perlu dikelola secara cermat karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan program strategis dan kepercayaan publik.
“Hilirisasi peternakan, terutama perunggasan, menjadi salah satu pertaruhan kita di sektor ini. Fokus pada ayam memang penting, tetapi harus ditata dengan cermat agar tidak menimbulkan persepsi keliru di masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sektor perunggasan memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda dibandingkan komoditas peternakan lainnya. Karena itu, penyusunan kebijakan dan penentuan prioritas harus dilakukan secara hati-hati, tanpa mengesampingkan komoditas lain yang juga berdampak langsung bagi masyarakat.
“Program pemerintah seharusnya benar-benar menyelesaikan persoalan di lapangan. Pendampingan dari pusat hingga daerah menjadi kunci agar program strategis ini berjalan efektif,” tuturnya.
Melalui penguatan tata kelola, disiplin anggaran, serta fokus pada hilirisasi ayam terintegrasi, Kementan optimistis subsektor peternakan dan kesehatan hewan mampu memberikan kontribusi yang semakin signifikan dalam memperkokoh ketahanan pangan nasional.