Optimalkan Potensi Peternakan, Bone Bolango Jalin Kolaborasi dengan Kementan
Jakarta - Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo memiliki sumber daya peternakan yang kuat, didukung ketersediaan lahan, populasi ternak yang besar, serta tradisi beternak yang telah mengakar di masyarakat. Potensi tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis produksi lokal, khususnya dalam pemenuhan protein hewani.
Pemerintah Kabupaten Bone Bolango, menjajaki penguatan sinergi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) melalui pertemuan di Jakarta, Jumat (9/1/2026). Langkah ini diarahkan untuk mengoptimalkan pengembangan subsektor peternakan secara terintegrasi guna menopang ketersediaan protein hewani dari daerah sendiri.
Bupati Bone Bolango Ismet Mile menegaskan daerahnya memiliki populasi sapi pedaging yang besar, namun pengelolaannya belum sepenuhnya optimal.
“Di beberapa wilayah, jumlah sapi bahkan lebih banyak dibanding penduduknya. Tantangannya adalah keterisolasian wilayah yang membuat pemasaran ternak belum berjalan maksimal,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan sapi sejak 2006 menunjukkan hasil positif dan memiliki ruang besar untuk diperluas.
“Penguatan peran pemerintah pusat melalui sinergi program sangat dibutuhkan agar sapi pedaging benar-benar menjadi penopang ketahanan pangan sekaligus sumber pendapatan masyarakat,” kata Ismet.
Selain pengembangan sapi, Ismet juga menyampaikan kebutuhan penguatan perunggasan, baik ayam pedaging maupun ayam petelur. “Saat ini, kebutuhan ayam dan telur masih dipasok dari luar daerah. Ke depan, kami ingin produksi tersebut dapat dipenuhi dari Bone Bolango sendiri,” ujarnya.
Pengembangan perunggasan salah satunya dibutuhkan untuk menjawab peningkatan konsumsi protein hewani, terutama dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menanggapi hal tersebut, Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, menyampaikan bahwa Bone Bolango memiliki modal kuat untuk mengembangkan subsektor peternakan.
“Kami melihat potensi daerah ini sangat menjanjikan, baik dari sisi sumber daya ternak maupun komitmen pemerintah daerah,” katanya.
Menurut Hendra, khusus sektor perunggasan, Kementan mendorong penerapan pendekatan hilirisasi ayam terintegrasi agar pengembangan berjalan efisien dan berkelanjutan.
“Hilirisasi tidak hanya soal produksi ayam, tetapi membangun ekosistem dari perbibitan, pakan, kesehatan hewan, hingga distribusi,” jelasnya.
Untuk itu, Hendra mendorong kolaborasi antara pelaku usaha daerah, BUMN, BUMD, dan sektor swasta.
“Sinergi pusat dan daerah menjadi kunci agar kebutuhan protein hewani masyarakat dapat dipenuhi dari daerah sendiri dengan harga terjangkau dan jaminan kesehatan,” pungkasnya.