Kementan Perkuat Diplomasi Kesehatan Unggas, Indonesia Jadi Titik Temu Pakar Dunia
Bogor – Pemerintah Indonesia memanfaatkan peringatan satu abad Newcastle Disease (ND) untuk memperkuat peran dalam percaturan kesehatan unggas global. Pertemuan ilmiah internasional yang digelar di Novotel Bogor Golf Resort & Convention Center pada 10–12 Februari 2026 itu menghadirkan para ilmuwan, otoritas veteriner, dan pelaku industri vaksin dari berbagai negara.
Kementerian Pertanian menilai forum tersebut menjadi momentum penting karena arah pengembangan pengendalian penyakit hewan, termasuk standar biosekuriti dan vaksinasi, banyak dibicarakan dalam ruang-ruang kolaborasi internasional semacam ini.
Indonesia memiliki kedekatan historis dengan ND karena penyakit tersebut pertama kali dikenali di Pulau Jawa. Seratus tahun kemudian, para ahli dunia kembali berkumpul di Indonesia untuk membahas perjalanan panjang riset sekaligus tantangan pengendalian di masa mendatang.
Sejumlah pakar yang hadir di antaranya Christophe Cazaban yang dikenal menjembatani riset dan industri vaksin global. Dari Inggris hadir Ian Brown, salah satu rujukan dalam virologi unggas. Pembaruan klasifikasi genetik virus dibahas Kiril Dimitrov, pengalaman pengembangan vaksin modern disampaikan Atsushi Yasuda, sementara aspek epidemiologi dipaparkan Arjan Stegeman.
Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Hendra Wibawa, mengatakan ND masih menjadi penyakit hewan strategis dengan dampak besar bagi produktivitas unggas di dunia.
“Di luar tantangan teknis di tingkat lapangan, penyakit ini juga memiliki implikasi yang lebih luas terhadap stabilitas pasokan pangan asal hewan, perdagangan, dan ketahanan pangan secara keseluruhan,” katanya.
Menurut Hendra, penguatan sistem juga dilakukan melalui peningkatan kapasitas laboratorium. “Untuk memastikan mutu dan keandalan pengujian diagnostik yang menjadi dasar kebijakan tersebut, pemerintah terus memperkuat kapasitas laboratorium sebagai pilar utama sistem kesehatan hewan,” ujarnya.
Saat ini Indonesia memiliki sembilan pusat investigasi penyakit hewan. Balai Veteriner Lampung ditetapkan sebagai laboratorium rujukan nasional untuk ND.
Selain itu, Indonesia juga telah memiliki kemampuan memproduksi vaksin secara mandiri sehingga mampu memenuhi kebutuhan nasional sekaligus mengekspor vaksin ke sejumlah negara lain.
Hendra menambahkan, pemerintah berkomitmen memperkuat sistem kesehatan hewan secara menyeluruh, mencakup pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons terhadap penyakit hewan strategis.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Agung Suganda dalam beberapa kesempatan menegaskan "Biosekuriti ketat adalah kunci pencegahan, dan setiap kasus yang mencurigakan harus segera dilaporkan agar bisa ditangani cepat,” ujarnya. Ia juga menegaskan vaksinasi merupakan salah satu upaya strategis untuk mengendalikan penyakit hewan menular.
Kementan, menurutnya, telah menyiapkan berbagai kebijakan untuk memastikan pengendalian berjalan sistematis. Salah satunya melalui penerapan kompartemenisasi yang menstandarkan biosekuriti dan manajemen kesehatan unggas pada unit produksi sehingga risiko penyebaran penyakit dapat ditekan.
Kementan juga akan terus terlibat aktif dalam pertukaran pengetahuan dan penguatan jejaring kerja sama internasional, sekaligus memastikan upaya pengendalian penyakit di tingkat peternak semakin efektif.