Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
1
Chatbot
Selamat datang, silahkan tanyakan sesuatu
Logo

Hadang Penularan Penyakit Hewan, Kementan dan Badan Pangan Dunia Susun Panduan Komunikasi Risiko

08/08/2025 13:56:00 Hasrul 305

Jakarta, - Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Badan Pangan Dunia tengah menyusun panduan strategi komunikasi risiko guna pencegahan dan pengendalian dua penyakit hewan menular strategis, yakni Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Lumpy Skin Disease (LSD).

Langkah ini diambil untuk memperkuat sistem kesehatan hewan nasional melalui komunikasi publik yang lebih terarah, adaptif, dan sesuai konteks lokal. 

Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, menyampaikan bahwa komunikasi risiko berperan penting dalam membangun kewaspadaan, meredam kepanikan, dan mendorong kerja sama lintas sektor. 

“Komunikasi risiko penting bukan hanya untuk masyarakat, tapi juga semua pihak yang terlibat. Strateginya harus fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi setiap daerah,” ujarnya di Jakarta, Jumat (1/8).

Ia menegaskan, efektivitas komunikasi risiko tak hanya ditentukan oleh isi pesan, tetapi juga cara dan siapa yang menyampaikannya. “Karena itu, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan hewan dalam merancang komunikasi yang tepat sasaran menjadi sangat penting,” imbuhnya.

Salah satu poin utama dalam panduan ini adalah penekanan pada segmentasi audiens dan pemetaan pemangku kepentingan. Strategi komunikasi diarahkan pada lima pilar: advokasi, komunikasi saat krisis, manajemen kemarahan, edukasi, dan hubungan masyarakat. 

Panduan juga menekankan perlunya strategi komunikasi yang fleksibel sesuai dengan kondisi sosial dan budaya lokal.

Sementara itu, praktisi komunikasi risiko, Vida, mengatakan pentingnya prinsip Emotional, Participatory, Imperfect, dan Continuous (EPIC). “Komunikasi harus menyentuh emosi, melibatkan masyarakat, tidak menunggu sempurna, dan terus berlanjut,” jelasnya.

Menurut Vida, pendekatan yang terlalu teknis dan kaku justru bisa menghambat pemahaman publik dan memperlemah respons kolektif.

Ia juga menyoroti bahwa strategi komunikasi tidak bisa bersifat seragam untuk seluruh wilayah. Setiap daerah memiliki karakteristik unik, baik dari sisi budaya, bahasa, maupun sistem peternakan. Karena itu, pesan komunikasi harus disesuaikan agar bisa diterima dengan baik oleh target audiens. 

"Dengan memahami konteks lokal, komunikasi bisa menjadi jembatan yang memperkuat kerja sama antar pihak dan mendukung pengendalian PMK dan LSD secara lebih efektif," pungkasnya.

Melalui panduan ini, Kementan berharap komunikasi menjadi ujung tombak dalam penanganan penyakit hewan, sekaligus memperkuat keterlibatan publik demi melindungi subsektor peternakan nasional dari ancaman penyakit hewan.

Facebook Instagram Youtube X TikTok