Kementan Dorong Rumah Ikonik sebagai Model Pemanfaatan Limbah Ternak di Subang
Subang – Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pemanfaatan limbah peternakan menjadi kompos/pupuk organik melalui konsep rumah ikonik atau Integrasi Kompos Organik (IKONIK) dalam kegiatan pertanian berkelanjutan di daerah. Kegiatan ini mulai diuji di Kelompok Tani Ternak Mandiri Jaya, Kabupaten Subang, sebagai model percontohan yang dapat direplikasi secara luas dimasyarakat.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Makmun, menegaskan bahwa pendekatan ini bertujuan menjawab tiga persoalan utama sekaligus, yaitu limbah, ketergantungan pupuk kimia dan peningkatan pendapatan peternak. Ia menyebut limbah peternakan memiliki potensi besar jika dikelola secara sistematis.
“Limbah itu bukan masalah, tetapi potensi. Jika diolah menjadi kompos/pupuk organik, ini bisa memperbaiki tanah sekaligus menambah penghasilan peternak,” kata Makmun di Subang, Sabtu (11/04/2026). Ia menambahkan bahwa konsep rumah ikonik akan menjadi pusat integrasi pengolahan kompos yang mudah dikenali dan diterapkan masyarakat.
Makmun juga menjelaskan bahwa program ini akan diuji secara terukur melalui perbandingan penggunaan pupuk organik dan pupuk kimia. “Kami ingin ada pembuktian/contoh penggunaan di lapangan, dimana kompos organik mampu mengurangi penggunaan dan ketergantungan terhadap pupuk kimia sehingga petani jadi lebih efisien dan berkelanjutan, sehingga peternak peternak lebih optimis dalam mengembangkan _Rumah Ikonik_,” ujarnya.
Kepala Kemitraan dan Hubungan Eksternal PT Global Dairi Alami (GDA), Rizal, menyatakan kesiapan perusahaannya untuk menjadi penggerak dalam implementasi program rumah ikonik tersebut. Ia menilai konsep ini sejalan dengan program eksisting Desa Inovasi yang telah berjalan, termasuk pengembangan kebun jagung masyarakat sebagai bagian dari ekosistem agribisnis.
“Kami sudah menjalankan Desa Inovasi dengan pengembangan kebun jagung masyarakat yang terhubung dengan ekosistem MilkLife. Hasilnya sudah berputar secara ekonomi dan memberi tambahan pendapatan bagi warga,” kata Rizal. Ia menjelaskan bahwa dalam satu siklus tanam, petani bisa memperoleh keuntungan bersih yang stabil jika dikelola kolektif. Ke depan, ini juga bisa diperluas untuk tanaman horti dan perkebunan sehingga manfaatnya semakin luas.
Rizal menambahkan, integrasi limbah peternakan sebagai kompos/pupuk organik akan memperkuat program tersebut. “Dengan pupuk organik dari limbah ternak, biaya produksi bisa ditekan dan produktivitas tetap terjaga. Ini membuat sistemnya semakin efisien dan berkelanjutan,” ujarnya.
Selain itu, GDA juga tengah menyusun standar operasional dari praktik ini agar program desa inovasi dan rumah ikonik nantinya dapat saling terhubung sebagai satu ekosistem pertanian terpadu dari hulu ke hilir.
Ketua Kelompok Tani Ternak Mandiri Jaya, Sarim, menyampaikan bahwa kelompoknya telah merasakan langsung manfaat pengolahan limbah menjadi pupuk. Produksi pupuk organik yang stabil memberikan tambahan pendapatan bagi kelompok dan anggota.
“Kami sudah membuktikan bahwa limbah ternak bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. Harapannya ini bisa terhubung dengan program desa inovasi, agar manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat,” kata Sarim. Ia juga menekankan pentingnya pendampingan agar kualitas produk tetap terjaga.
Program ini diharapkan menjadi solusi konkrit dalam mengatasi persoalan limbah sekaligus memperkuat ekonomi petani dan peternak. Integrasi antara pengolahan limbah, kebun jagung masyarakat, dan desa inovasi menjadi model baru pertanian berkelanjutan.