Tim Ahli Jepang Apresiasi Konsistensi Kementan Kembangkan Teknologi Peternakan
Malang — Upaya negara memperkuat produksi susu dan daging nasional kian terasa hingga tingkat peternak. Penguatan sumber daya manusia dan penerapan teknologi inseminasi buatan (IB) dinilai langsung berdampak pada meningkatnya produktivitas ternak, menekan biaya reproduksi, dan memperbaiki mutu genetik sapi yang dikelola peternak rakyat.
Komitmen tersebut terlihat saat Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari menerima kunjungan tim ahli dari Japan International Cooperation Agency (JICA) Headquarter, Rabu, 4 Februari 2026. Kunjungan ini menjadi langkah awal penjajakan lanjutan kerja sama teknik untuk mempercepat peningkatan produksi susu dan daging nasional melalui teknologi reproduksi yang lebih efisien dan terjangkau bagi peternak.
Bagi peternak, penguatan IB berarti akses yang lebih luas terhadap semen beku pejantan unggul dengan standar mutu terjamin. Dampaknya, angka kebuntingan meningkat, jarak beranak lebih pendek, dan bobot lahir pedet lebih seragam—faktor kunci yang menentukan pendapatan peternak dalam jangka menengah.
Dalam kunjungan lapangan, delegasi meninjau laboratorium, koleksi pejantan unggul, hingga proses produksi semen beku. Standar ISO yang diterapkan di setiap tahapan produksi menjadi jaminan mutu bagi peternak pengguna layanan IB di berbagai daerah.
Kepala BBIB Singosari, Akbar, menyatakan penguatan kapasitas SDM menjadi kunci agar layanan IB semakin presisi dan responsif terhadap kebutuhan peternak.
“Pendampingan JICA sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas SDM, seiring pesatnya perkembangan teknologi inseminasi buatan dan peran BBIB Singosari yang semakin luas, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.
Dari sisi kebijakan, Kementerian Pertanian menegaskan kehadiran negara untuk melindungi dan memberdayakan peternak melalui penyediaan teknologi reproduksi yang andal. Investasi pada SDM dan perbibitan diposisikan sebagai instrumen perlindungan jangka panjang, agar peternak tidak tertinggal dan mampu bersaing memenuhi kebutuhan protein hewani nasional.
Director JICA Headquarter, Makiko Asaoka, mengapresiasi konsistensi Indonesia dalam memanfaatkan dan mengembangkan teknologi yang sebelumnya didukung JICA.
“Kami sangat terkesan karena teknologi dan sistem yang pernah kami dukung masih digunakan, dirawat, bahkan dikembangkan. Kami akan melakukan pendalaman lebih lanjut untuk menentukan bentuk pendampingan yang paling tepat bagi BBIB Singosari,” kata Asaoka.
Penjajakan ini menjadi bagian dari penilaian JICA terhadap usulan kerja sama teknik Pemerintah Jepang tahun fiskal 2026, dengan fokus transfer pengetahuan produksi sapi perah dan potong serta penguatan unit perbibitan. Bagi peternak, kerja sama ini diharapkan berujung pada layanan IB yang lebih cepat, akurat, dan terjangkau—sekaligus memastikan negara hadir menjaga keberlanjutan usaha peternakan rakya