Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
1
Chatbot
Selamat datang, silahkan tanyakan sesuatu
Logo

Sulsel Pacu Pembangunan Infrastruktur Hilirisasi Perunggasan

08/04/2026 07:42:00 Hasrul 38

Bone – Upaya percepatan program hilirisasi ayam terintegrasi di Sulawesi Selatan terus menunjukkan perkembangan signifikan. Hal ini sejalan dengan langkah konkret Kementerian Pertanian bersama BUMN dalam memperkuat rantai pasok perunggasan nasional, khususnya di luar Pulau Jawa.

Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada Kamis (2/4/2026) di Pabrik Gula Camming, Kabupaten Bone. Kesepakatan ini melibatkan PTPN, PT Berdikari, serta PT UGI sebagai bentuk sinergi dalam pengembangan industri perunggasan terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Program ini merupakan bagian dari strategi besar untuk meningkatkan produksi sekaligus menjawab kebutuhan konsumsi masyarakat yang terus meningkat. Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian, Makmun juga menyebut proyek ini mendapat perhatian langsung dari Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman sebagai bagian dari agenda percepatan hilirisasi nasional. 

Makmun menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen memastikan seluruh proses administratif dan perizinan berjalan cepat agar implementasi proyek tidak terhambat di lapangan.

“Kami sepakat untuk bergerak cepat. Penandatanganan di lokasi ini menjadi dasar hukum untuk mempercepat seluruh proses perizinan,” kata Makmun.

Di lapangan, pengembangan proyek dilakukan di sejumlah titik strategis di Kabupaten Bone. Di kawasan Kebun Swadaya, direncanakan pembangunan empat kandang Final Stock (FS) Broiler (ayam pedaging)  berkapasitas total 160.000 ekor dengan desain modern dua tingkat.

Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, menegaskan bahwa proyek hilirisasi ini bukan sekadar ekspansi bisnis, melainkan wujud komitmen BUMN dalam mendukung kedaulatan pangan nasional. Ia menilai sinergi antarperusahaan menjadi kunci dalam membangun ekosistem industri perunggasan yang terintegrasi dan berkelanjutan.

“Kerja sama ini adalah sinergi untuk kepentingan bersama. Kami mendorong pembangunan infrastruktur utama seperti Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU), cold storage, dan unit pakan agar dapat beroperasi dalam satu tahun ke depan,” ungkap Teddy Yunirman Danas.

Sementara itu, pembangunan di Kebun Mattirowalie akan difokuskan pada kandang pullet dan FS Layer (ayam petelur) dengan total kapasitas 50.000 ekor. Adapun di Kebun Mappesangka, akan dibangun fasilitas RPHU dengan kapasitas pemotongan hingga 2.000 ekor per jam guna mendukung proses hilirisasi.

Di sisi lain, Direktur Keuangan dan SDM PT Berdikari, M. Kaspiyah, menilai kolaborasi antar-BUMN dan mitra strategis menjadi kunci percepatan hilirisasi sektor peternakan. Menurutnya, integrasi dari hulu hingga hilir akan meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat daya saing industri dalam negeri.

“Integrasi dari hulu hingga hilir akan meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat daya saing industri dalam negeri,” tutur M. Kaspiyah.

Selain itu, kawasan Kebun Dekko dirancang menjadi pusat integrasi yang mencakup kandang (Parent Stock) PS Broiler, hatchery, hingga pabrik pakan. Sejumlah langkah lanjutan juga telah disiapkan, mulai dari penyelesaian perizinan, penyusunan desain teknis oleh konsultan, hingga koordinasi lintas sektor untuk penyediaan infrastruktur dasar dan dukungan logistik.

Dengan berbagai langkah yang telah disiapkan serta dukungan lintas sektor yang terus diperkuat, proyek hilirisasi perunggasan terintegrasi di Sulawesi Selatan diharapkan mampu menjadi model pengembangan industri peternakan nasional berbasis kawasan. Implementasi program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi dan efisiensi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan. (*)

Facebook Instagram Youtube X TikTok