Kementan Dorong Insinyur Peternakan Jadi Pelindung dan Mitra Peternak Rakyat
Yogyakarta — Pemerintah menegaskan peran pendidikan profesi peternakan tidak berhenti pada penguasaan teknologi, tetapi harus berpihak kepada peternak rakyat dan menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Hal tersebut disampaikan Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian (Kementan), Hary Suhada, dalam acara Pelantikan Insinyur Peternakan pada Program Profesi Insinyur Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (13/1/2026).
Menurut Hary, tantangan sektor peternakan saat ini menuntut kehadiran tenaga profesional yang tidak hanya ahli secara teknis, tetapi juga memahami kondisi sosial-ekonomi peternak kecil yang menjadi tulang punggung penyediaan protein hewani bagi masyarakat.
“Keinsinyuran peternakan mengandung tanggung jawab moral, keberlanjutan sumber daya, dan kontribusi nyata bagi ketahanan pangan nasional,” ujar Hary.
Ia menegaskan, gelar Insinyur Peternakan bukan sekadar prestasi akademik, melainkan amanah profesi dan kebangsaan untuk ikut membangun sistem peternakan nasional yang efisien, berkelanjutan, dan adil bagi peternak rakyat.
“Gelar Insinyur bukan sekadar prestasi pribadi, tetapi amanah yang harus diwujudkan dalam pengabdian nyata kepada bangsa. Mari gunakan ilmu, keahlian, dan integritas untuk membangun sistem peternakan yang efisien, berkelanjutan, dan berpihak pada rakyat,” tambahnya.
Kementan melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menekankan bahwa pendidikan profesi peternakan harus melahirkan pelaku profesional yang mampu menjawab persoalan lapangan, mulai dari manajemen produksi, kesehatan hewan, hingga penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat.
Kementan melihat bahwa kualitas sumber daya manusia merupakan kunci meningkatkan daya saing peternak kecil di tengah perubahan iklim dan fluktuasi harga pakan. Dengan hadirnya insinyur peternakan yang memahami prinsip keberlanjutan dan efisiensi usaha, pemerintah berharap terjadi transformasi nyata pada sistem produksi di tingkat peternak rakyat — dari pola tradisional menuju manajemen berbasis sains dan efisiensi.
Hary juga menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dalam mencetak insinyur peternakan yang memiliki keberpihakan sosial. Ia memberikan apresiasi kepada Universitas Gadjah Mada, khususnya Fakultas Peternakan dan Program Profesi Insinyur, atas dedikasi mereka dalam membimbing peserta hingga menjadi profesional yang unggul secara teknis maupun etika.
Pelantikan ini, kata Hary, menandai awal pengabdian profesional di bidang peternakan yang langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat desa. “Dari universitas menuju kandang rakyat, Insinyur Peternakan harus hadir sebagai jembatan solusi,” ujar Hary.
Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ilham Akbar Habibie menekankan bahwa di tengah tantangan global, mulai dari perubahan iklim, transformasi digital, ketahanan pangan, energi, hingga pembangunan infrastruktur berkelanjutan, peran insinyur menjadi sangat strategis.
“Insinyur tidak hanya dituntut untuk membangun, tapi juga merancang masa depan. Masa depan yang tangguh, inklusif dan berkeadilan,” kata Ilham yang hadir secara online.
Ilham juga mendorong kontribusi nyata para insinyur Indonesia untuk mengembangkan industri tanah air agar masa depan bangsa semakin cerah. “Program Profesi Insinyur Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada diharapkan memiliki peran penting dalam menyiapkan insinyur Indonesia yang siap praktik, siap memimpin, dan siap berkontirbusi bagi negara,” tutup Ilham.