Indonesia Denmark Percepat Transformasi Sapi Perah Organik Menuju 2027
Jakarta — Transformasi subsektor peternakan sapi perah menuju sistem yang lebih berkelanjutan terus diperkuat melalui kolaborasi antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Denmark. Lewat program Strategic Sector Cooperation (SSC), kedua negara tidak hanya mencatat berbagai capaian penting, tetapi juga mulai menyiapkan langkah lanjutan menuju fase ketiga yang direncanakan bergulir pada 2027.
Komitmen tersebut mengemuka dalam sebuah forum koordinasi yang berlangsung pada Senin (13/4/2026). Kegiatan ini dipimpin Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Hary Suhada, serta dihadiri Sector Counsellor for Food and Agriculture Kedutaan Besar Denmark di Indonesia, Lotte Dam, Kepala BBPTU HPT Baturraden, Dani Kusworo, dan perwakilan dari berbagai unit kerja di lingkungan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.
Dalam kesempatan itu, kedua pihak menyoroti hasil kerja sama yang dinilai telah memberi dampak nyata bagi pengembangan peternakan sapi perah organik di Indonesia. Salah satu capaian penting adalah terselenggaranya pelatihan Training of Trainers (😭) di bidang organic dairy farming, yang berhasil mencetak tenaga pelatih lokal yang kompeten.
Selain itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga terus didorong melalui berbagai pelatihan teknis dan short course. Program ini tidak hanya menyasar aparatur pemerintah, tetapi juga pelaku usaha dan praktisi peternakan, sehingga mempercepat penerapan sistem organik di tingkat lapangan.
Perubahan di sektor produksi pun mulai terlihat. Sejumlah unit peternakan sapi perah telah beralih dari sistem konvensional ke organik. Proses ini dinilai berjalan baik dan mulai menunjukkan hasil positif, baik dari sisi manajemen budidaya maupun pengelolaan usaha. Perbaikan juga tampak pada kualitas lingkungan produksi, khususnya dalam pengembangan hijauan pakan ternak yang lebih berkelanjutan.
Hary Suhada menegaskan bahwa kolaborasi Indonesia–Denmark melalui SSC menjadi faktor penting dalam mendorong perubahan tersebut.
“SSC Indonesia–Denmark bukan sekadar program kerja sama, tetapi menjadi pengungkit transformasi menuju sistem peternakan organik yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan. Kami melihat dampak nyata di lapangan, terutama dalam peningkatan kapasitas SDM dan perubahan pola budidaya,” ujarnya.
Ia menambahkan, fase ketiga program nantinya akan difokuskan untuk memperluas manfaat agar dapat dirasakan lebih banyak pihak, sekaligus memperkuat kemandirian sektor peternakan nasional.
Sementara itu, Lotte Dam menilai kemitraan yang terjalin sejauh ini berjalan efektif dan berada di jalur yang tepat.
“Kolaborasi ini mencerminkan bagaimana pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarnegara dapat mendorong perubahan nyata. Denmark berkomitmen untuk terus mendukung Indonesia melalui inovasi, teknologi, dan praktik terbaik dalam pengembangan sektor susu organik,” kata Lotte.
Ke depan, arah kebijakan pada fase ketiga SSC akan difokuskan pada penguatan kelembagaan dan keberlanjutan program. Beberapa prioritas yang akan dikembangkan antara lain memperkuat peran BBPTU HPT Baturraden sebagai pusat unggulan (center of excellence) peternakan sapi perah organik, meningkatkan kapasitas tenaga teknis di bidang perbibitan dan produksi ternak, serta memperkuat regulasi yang mendukung ekosistem peternakan organik di Indonesia.
Dengan sinergi yang semakin erat antara kedua negara, serta dukungan berbagai pemangku kepentingan, pengembangan sapi perah organik di Indonesia diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi susu, tetapi juga mendorong terciptanya sistem peternakan yang lebih ramah lingkungan, berdaya saing, dan berkelanjutan dalam jangka panjang. (*)