Bendung Ancaman Resistensi Antimikroba, Kementan Keluarkan Jurus Ampuh Perkuat Riset AMR

Bogor — Dalam upaya memperkuat ketahanan nasional terhadap ancaman resistensi antimikroba (AMR), Kementerian Pertanian (Kementan) secara aktif mengembangkan kapasitas sumber daya manusia teknis di bidang laboratorium. Kegiatan yang digagas The Fleming Fund Country Grant to Indonesia (FFCGI) Phase II, bertempat di Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) pada Senin, 28 Juli 2025, fokus gelaran ini yaitu peningkatan kompetensi dalam pengujian resistensi mikroorganisme terhadap antibiotik.

AMR merupakan suatu fenomena biologis yang ditandai oleh kemampuan mikroorganisme—termasuk bakteri, virus, jamur, dan parasit—untuk bertahan hidup dan berkembang meskipun telah terpapar agen antimikroba seperti antibiotik, antivirus, antijamur, dan antiparasit yang sebelumnya efektif dalam mengeliminasi patogen tersebut. AMR telah diakui sebagai ancaman kesehatan global yang berdampak luas terhadap kelangsungan hidup manusia, hewan, tumbuhan, serta keseimbangan ekosistem lingkungan.

Sebagai bagian dari kolaborasi bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Inggris dalam penanggulangan AMR, FFCGI melaksanakan kegiatan riset melalui proyek kolaboratif bertajuk Extended Tricycle Project Indonesia for Extended-Spectrum Beta-Lactamase Positive Klebsiella pneumoniae and Escherichia coli (E-Trike). 

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menentukan prevalensi bakteri penghasil enzim extended-spectrum beta-lactamase (ESBL), khususnya Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae, pada sektor manusia, hewan, dan lingkungan sebagai upaya pemetaan risiko dan penguatan sistem surveilans resistensi antimikroba secara terpadu.

Kepala BBPMSOH, Hasan Abudullah Sanyata, dalam sambutannya menegaskan bahwa AMR adalah tanggung jawab bersama. 

“Ancaman dari resistensi mikroba tidak hanya terjadi pada manusia, tapi juga pada hewan dan lingkungan yang saling terhubung. Pelatihan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat pengawasan dan riset nasional,” ujarnya.

FFCGI Phase II meliputi pemahaman metodologi riset, prosedur pengambilan dan penanganan sampel, serta teknik pengujian bakteri penghasil enzim ESBL. Kegiatan ini turut dilengkapi dengan praktik lapangan terkait proses pengambilan dan penanganan sampel secara langsung.

Tujuan utama menyasar peningkatkan kapasitas teknis personel dalam pengambilan sampel serta mengoordinasikan penetapan lokasi dan ukuran sampel penelitian Tricycle One Health–Collaborative Project bersama Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) Provinsi DKI Jakarta serta Suku Dinas KPKP di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara. 

Ketepatan dalam proses pengambilan dan penanganan sampel menjadi aspek krusial yang berpengaruh signifikan terhadap validitas hasil uji laboratorium selanjutnya.

Verawati Sulaima dari RSPI Sulianti Saroso menyatakan, “Proyek ini merupakan kelanjutan dari riset serupa yang kami lakukan pada tahun 2018, yang menemukan 67,10% kasus positif ESBL pada sektor hewan. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk terus memperkuat kolaborasi lintas sektor.”

Pertemuan ini menegaskan bahwa semangat kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam upaya pengendalian laju resistensi antimikroba (AMR). Tanpa sinergi yang solid antar pemangku kepentingan, dampak AMR yang meluas—baik terhadap kesehatan masyarakat maupun stabilitas ekonomi—akan sulit dibendung dan berpotensi mengancam ketahanan nasional.